Sebagai generasi muda dari keturanan Raja Sibagot Ni Pohan, kita perlu
mempersiapkan diri, terutama dalam menghadapi perubahan yang tengah berlangsung
cepat, tanpa harus tercabut dari akar budaya itu sendiri. Juga, jati diri
sebagai halak batak. � Saatnya kita berbuat, menggali dan memperlihatkan
kekayaan nilai budaya dan kebesaran leluhur kita. Ketauladanan Raja Sibagot ni
Pohan sangat patut dibanggakan. Kharisma kepemimpinan yang dimiliki, patut
dikenang dan diimplementasikan dalam hidup dan kehidupan ini, terutama oleh 14
marga dari 4 keturunannya. Saatnya kita memberdayakan potensi yang ada dari
segenap pomparan Raja Sibagot ni Pohan, baik yang ada di bona pasogit maupun di
tano parserahan�. Pernyataan ini dilontarkan Ir. Horas Legius
Silitonga (53) yang saat ini Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Toba Samosir.
Guna pemanfaatan tanah pusaka milik Sibagot Ni Pohan di Onan Raja Balige,
Rabu (29/8), bertempat di rumah kediaman F. Ompu Morbajulu Pardede (78),
Silitonga berpendapat, ada baiknya seluruh pomparan Sibagot ni Pohan
mewacanakan rencana pembangunan sebuah �monumen yang merupakan suatu
pertanda, sebagai tugu yang hidup�, atas kepemilikan lahan
keturunan Raja Sibagot Ni Pohan seluas sekitar l.132 M2, sesuai hasil ketetapan
Panitia XIV Raja Sibagot Ni Pohan tgl, 29 Mei 1983.
Dikatakan, dalam menyongsong perobahan dari waktu ke waktu, sejalan dengan
perkembangan kemajuan, perlu meluruskan atribut-atribut miring yang terlanjur
melekat. �Artinya
sebagai generasi penerus, kita patut memikirkan sesuatu yang kelak bisa lebih
berguna. Bahkan, jika mungkin, dapat dikenang sepanjang zaman. Terutama, oleh
anak cucu kita. Contohnya, seandainya kita membangun sebuah mess atau semacam
sopo partukkoan, apakah itu rumah parsaktian Sibagot Ni Pohan, atau apapun
namanya, kita maksudkan, bisa merupakan cerminan, atas keberadaan dan kebesaran
Raja Sibagot Ni Pohan, dulunya�, ungkap Horas Silitonga.
Selanjutnya ditambahkan, implikasi antara modernisasi dan tradisi perlu
dimaksimalkan. Sebab, untuk mengembangkan kehidupan yang lebih modren, tidak
harus meninggalkan tradisi. Bahkan, kehidupan yang lebih modren menggunakan
sifat tradisi yang fundamental. Mungkin saja, menjadikannya sebuah mode yang
spekatakuler. (kata dasar modernisasi adalah mode). Seperti, yang sering kita
takutkan dalam pembangunan masyarakat kota,
yang cenderung ke arah westernisasi, dan bukan modernisasi.
Untuk realisasi pelaksanaan rencana ini, rasanya tidak terlalu sulit. Sebab,
kalau kita lihat pomparan Raja Sibagot Ni Pohan, menyebar hampir di seluruh
pelosok nusantara. Dengan adanya mess yang hendak dibangun, tentu bisa
dimanfaatkan anak rantau, terutama ketika liburan atau pulang ke bona pasogit.
Di samping penghasilan yang didapat dari nilai ekonomisnya, juga diharapkan
mampu menyerap tenaga kerja. Minimal 10 orang dapat direkrut sebagai
pengelolanya. Tentu saja, dari warga Sibagot Ni Pohan itu sendiri. Hal tersebut
akan berdaya guna. Dan, pasti akan lebih berarti, jika dibandingkan kalau tanah
pusaka tersebut, seolah dibiarkan begitu saja sebagai lahan kosong seolah tidak
bertuan.
Artinya, peluang pemanfaatannya untuk tujuan positif harus kita pikirkan.
Karena, situasi lokasinya cukup strategis, lumayan dekat dari kota Balige. Juga, luasnya sangat
memungkinkan. Bahkan, jika didesain menurut kaedah arsitektur, mungkin bisa
dilengkapi ruang perpustakaan, hall untuk pertemuan, museum, dan berbagai
kegunaan lainnya, sehingga dapat lebih bermanfaat.
Karena, boleh jadi, dalam konteks berpikir pelestarian budaya, mungkin bisa
berkait dengan nilai komersil. Sejatinya, budaya kita yang sarat dengan nilai
dan makna yang ampuh, harus dapat mengisi kehidupan lebih berkualitas dan
bermartabat tinggi. Terutama, untuk menghadapi perubahan yang sedang
berlangsung dalam menyongsong masa depan kita.
F. Ompu Morbajulu, salah seorang Pengurus dari Panitia XIV Raja Sibagot Ni
Pohan yang masih hidup, yang pernah ditugasi menyelesaikan masalah tanah pusaka
ini pada tahun 1983 lalu, sangat menyambut baik. Beliau ini sangat setuju,
adanya rencana pembangunan mess seperti yang diwacanakan. Sebagai salah seorang
dari 3 orang anggota Panitia XIV yang masih hidup, saya mendukung sepenuhnya
rencana ini. Dengan segala kesanggupan yang memungkinkan, saya akan berusaha
membantu. Sebab, sesungguhnya saya sangat terkesan dengan adanya rencana ini.
Ompu Morbajulu siap mendukung sepenuhnya.
Beliau sarankan kepada yang muda, merencanakan segera, dan laksanakan apa
yang kita gagasi serta kita bicarakan hari ini. Dan minta, carikan arsitek
untuk membuat design gambar awal, serta wacanakan. Tidak perlu menunda-nunda waktu.
Pergunakan, dan manfaatkanlah kesempatan yang baik ini. Untuk sebuah rencana
besar dalam mengangkat harkat dan marwah ompu Raja Sibagot Ni Pohan, kita
percaya, rencana baik akan selalu diberkahi Tuhan dan akan tetap ditumpahi
sahala ni akka natua tua.
Dalam perbincangan tentang gagasan untuk mewanakan pembangunan sebuah mess
Sibagot Ni Pohan sebagai sopo partukkoan, Ompu Morbajulu meminta Ir. Sahala
Simanjuntak untuk mendesain gambar pra rencana, yang nantinya bisa dibahas
pengembangannya.
ido ate……