<a href="” title=”Silakan Anda Klik”>Silakan Anda Klik
http://www.income-web.biz?a_aid=4ed74b4ba9740
<a href="” title=”Silakan Anda Klik”>Silakan Anda Klik
http://www.income-web.biz?a_aid=4ed74b4ba9740
“60% orang merasa mereka telah melakukan proses berfikir..
20% lain merasa bahwa mereka telah cukup berfikir saat sekolah,
10% selanjutnya jelas-jelas menolak keras untuk berfikir
5% saja yang telah berfikir secara optimal & meraih solusi
sedangkan sisanya memilih untuk mati daripada harus berfikir.”
(dikutip dari buku Being Happy, by Andrew Matthews)
Demikian tragis-kah apa yang terjadi pada manusia? dimana sebagian besar
dari mereka merasa enggan untuk menggunakan ‘tools’ yang paling mulia
dan paling bermanfaat yang dikaruniakan pada dirinya, yaitu pemikiran?
Ada sebuah iklan minuman energi untuk Anak yang menggambarkan seorang
anak dengan dialog berbentuk awan komik, yang berkata pada ibunya sbb:
“Berfikir juga perlu energi, Bu”. Pernyataan ini memang benar adanya, tetapi
seberapa besar energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah ide besar
dari pemikiran? Ternyata penelitian ilmuwan menunjukkan hasil yang sangat
mengejutkan bahwa untuk menghasilkan sebuah ide dari hasil pemikiran,
hanyalah dibutuhkan sepersekian juta energi dari yang dibutuhkan untuk
menyalakan lampu pijar, dengan demikian, proses pemikiran hanya butuh
energi yang sangat sangat kecil untuk membuahkan sebuah gagasan/ide.
Jadi ide yang muncul di benak pencipta lampu pijar, pc komputer yang Anda
gunakan, mobil yang Anda kendarai, pesawat, obat-obatan, teknologi, dan
lain sebagainya, muncul di benak pemikiran manusia dengan kebutuhan energi
yang jauh lebih rendah dari energi yang dibutuhkan sebuah kalkulator!
Saat ini pemikiran Anda memiliki energi yang jauh dari cukup untuk dapat
menghasilkan ide, gagasan, penemuan, solusi, kreatifitas dan berbagai
masterpiece lain yang dapat merubah hidup Anda dan sesama, bahkan
berguna untuk generasi selanjutnya, maka dari itu, mari kita optimalkan
kapasitas berfikir dan energi pemikiran yang berlimpah ini untuk menciptakan
sesuatu yang luar biasa, di atas segala sesuatu yang biasa-biasa saja.
Bila Anda telah membiasakan diri dengan jalan-jalan yang tulus dan ikhlas. Anda akan berbahagia menemukan diri Anda berada dalam pergaulan yang jujur.
Tetapi bagi dia yang telah mengabaikan kejujuran – akan ada perasaan terbuang dan terendahkan yang menggeliat di dadanya.
Bila kebaikan masih kuat di hatinya, dia akan mendekat dan memandikan dirinya dengan air sejuk ketulusan dan keikhlasan yang sebetulnya telah lama dirindukannya. Tetapi bila hatinya telah kaku dengan kerak penistaan atas kebutuhannya untuk menjadi pribadi yang mulia, dia akan menyingkir dengan upaya keras untuk melupakan kebaikan yang telah membuatnya gelisah.
Kejujuran adalah citra terbaik.
Mulai hari ini, perhatikanlah bahwa yang sebetulnya kita hormati adalah orang jujur yang pandai, bukan orang yang pandai yang jujur. Karena, hormat kita akan hilang bila terbukti seorang pandai itu-tidak jujur. Tetapi, kekurangan pribadi apa pun pada pribadi yang jujur-tidak akan menghapus hormat kita kepadanya, apalagi bila dia memiliki kelebihan yang penting bagi kebaikan orang lain.
Yang menghormati orang kaya yang tidak jujur-selalu adalah orang yang mengharapkan pembagian dari harta yang tidak jujur itu. Tetapi, orang miskin yang jujur, bahkan-juga yang kaya dan jujur-selalu menerima aliran doa dari hati yang tak terhitung jumlahnya.
Bila karakter pribadi kita adalah sebuah gunung, reputasi adalah bayangan dari gunung itu.
Sebuah kerikil, hanya akan membuat sebuah bayangan kerikil.
Anda tidak akan bisa membangun sebuah bayangan se-ukuran gunung, bila Anda tidak membangun sebuah gunung.
Kita, Anda dan saya tidak akan mampu membangun reputasi yang baik, tanpa lebih dahulu membangun sebuah pribadi yang berkualitas.
Bangunlah reputasi sebagai bagian dari keuntungan orang lain, bukan bagian dari biaya mereka.
Kita semua memiliki masalah-masalah kita dalam karir dan kehidupan pribadi kita, dan akan sangat berterima kasih kepada siapa pun yang bisa membantu kita menyelesaikan masalah-masalah itu.
Maka kita akan sangat diuntungkan bila kita memastikan kehadiran kita – menjadi sebuah kehadiran yang menyelesaikan masalah orang banyak.
Anda disebut , bila Anda famous menjadikan diri Anda bagian dari penyelesaian.
Dan dia, akan menjadi notorious, bila dia menjadikan dirinya bagian, atau bahkan sumber dari masalah.
Mempertahankan kebiasaan buruk adalah seperti berdiri dalam semen basah.
Semakin lama Anda berdiri dalam semen basah, akan semakin sulit Anda membebaskan diri.
Dan mempertahankan kebiasaan buruk, adalah persis seperti berdiri dalam semen basah.
Walau pun Anda sudah berubah bentuk, cetakan semen itu mengumumkan bentuk Anda sebelumnya – sebagai bentuk asli Anda.
Itu sebabnya, dibutuhkan waktu yang cukup panjang untuk memperbaiki nama yang sempat rusak, karena cetakan reputasi buruk bias mengekang lebih kuat daripada semen yang telah mengeras.
Cari lah yang bukan gajah.
Bila Anda kesulitan menemukan bentuk gajah dalam sebuah bongkah besar marmer, temukan lah bentuk-bentuk yang bukan gajah dan kemudian sebuah bentuk gajah akan mulai terlihat dengan lebih jelas.
Dan anjurannya adalah; bila kita menemukan banyak kesulitan dalam mebangun kualitas-kualitas bintang pada diri kita, tunda lah sebentar upaya itu.
Sebagai gantinya, temukan lah keburukan-keburukan yang telah menjadi tuan rumah dalam perilaku kita, dan segera hilangkanlah.
Bila kita berhasil meminimalkan kekurangan-kekurangan, sebetulnya kita telah berhasil memaksimalkan kebaikan-kebaikan kita.
Anda bisa mencapai keberhasilan tanpa mengupayakan keberhasilan.
Banyak orang menjadi gagal dalam upaya mencapai keberhasilan, dan menjadikan diri mereka dikenal buruk; tanpa menyadari bahwa lebih banyak orang yang berhasil dalam upaya menjadikan diri mereka bernilai bagi orang lain.
Mereka mencapai keberhasilan, bukan karena mereka mengupayakan keberhasilan bagi diri mereka sendiri; tetapi karena mengupayakan keberhasilan bagi orang lain.
Jangan lah hanya menjadi terkenal, tetapi pastikanlah Anda dikenal baik dalam suatu hal.
Dan kita akan mudah mengenali kualitas-kualitas yang akan menjadikan kita dikenal baik, dengan memperhatikan apa yang kita utamakan dalam kesendirian kita saat tidak ada orang yang melihat kita.
Karena, karakter pribadi yang sesungguhnya, adalah yang tampil saat kita sendiri – saat kita merasa se-bebas-bebas-nya untuk menjadi apa pun yang kita sukai.
Maka berhati-hati lah dalam kesendirianAnda.
Bukankah sering terjadi, bahwa saat kita bekerja keras- tidak ada yang melihat; tetapi saat kita menguap – ada yang melihat.
Beranikan lah diri Anda.
Anda tidak akan mungkin mendekati keberhasilan, bila Anda tidak juga ramah kepada kegagalan.
Jangan lah menjadikan kemungkinan adanya kegagalan sebagai pembatal keinginan kita untuk mencapai kebesaran yang telah menjadi hak kita – yaitu untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini.
Kesalahan adalah tanda-tanda untuk naik yang akan Anda temui dalam upaya mewujudkan kelas kelas kepemimpinan yang lebih tinggi pada diri Anda, dan sama sekali bukan tanda untuk berhenti.
Bila Anda tidak membuat kesalahan, itu berarti bahwa Anda tidak berupaya cukup keras.
Dan bahkan bila Anda harus dikenal karena kesalahan Anda, maka biar lah – asal mereka tahu bahwa itu adalah kesalahan, dan mereka juga tahu bahwa Anda masih dalam perjalanan untuk menjadi seorang bintang.
Pastikanlah bahwa kebaikan adalah yang menjadi dasar reputasi Anda.
Coba lah mulai hari ini untuk menyenangkan setidaknya satu orang setiap hari.
Reputasi pribadi yang paling manis adalah reputasi yang dibangun karena suka-cita orang lain dalam pertemuan dengannya.
Dan dengan mencoba menyenangkan setidaknya satu orang setiap hari, sebetulnya proses membangun sebuah nama baik, adalah sebuah proses yang penuh suka cita.
Berapa orang kah yang bisa Anda gembirakan hari ini?
(Sumber: Becoming A Star, Mario Teguh)
Kualitas pertama dan yang paling penting dari sebuah tindakan adalah pelaksanaannya, baru kemudian ketepatan tindakannya, kemudian kemudahan melakukannya, kemudian ketepatan biayanya, dan kemudian yang terakhir adalah keindahan dari pelaksanaan dari tindakan itu.
Tetapi para ahli menunda tindakan itu ada di mana-mana.
Dan karena tidak melakukan yang seharusnya mereka lakukan, mereka jadinya -harus melakukan yang seharusnya tidak mereka lakukan.
Itu sebabnya banyak orang yang terlambat mencapai yang telah lama dicapai oleh orang lain.
Sebetulnya, setiap orang di antara kita adalah pribadi yang super cepat bertindak-bila dia bertemu dengan sesuatu atau keadaan yang mewajibkannya untuk bertindak tanpa sempat memikirkan penundaan.
Peluang
Reaksi cepat seorang pemimpin yang bertindak saat sebuah peluang hadir, bisa saja datang dari penantian yang cukup melelahkan, atau dari kekhawatiran bahwa kesempatan yang sama mungkin tidak akan tersedia lagi, atau bila peluang ini tidak diambilnya, orang lain akan memanfaatkannya.
Bila kita tidak terlatih untuk berpikir cepat dalam menimbang resiko dan nilai dari keuntungan dalam bertindak cepat – pada awal terbukanya sebuah peluang; kita akan sering terperangkap dalam keharusan untuk segera meninggalkan sebuah pekerjaan, membayar biaya dari ketergesaan itu, sambil memusatkan perhatian kepada kemungkinan peluang berikutnya.
Masalah
Ada pemimpin usaha yang hanya akan bertindak – bila dia sudah mengetahui adanya sebuah masalah.
Pada detik dia mengetahui masalah itu – karena tidak sengaja, atau karena sebuah proses formal; dia segera meledak dengan tindakan-tindakan drastis yang sering juga sangat emosional.
Segala sesuatu ingin dilakukannya, semua harus selesai kemarin, dan dia menyalahkan semua orang – kecuali dirinya.
Namun, semua orang yang mengenalnya, juga mengenali bahwa semua kegentingan itu akan segera berlalu, karena sang pemimpin akan segera santai kembali – karena sudah membiasa dan mulai lupa dengan pengetahuannya mengenai masalah-masalah bisnisnya.
Bila dia ingat – dia panik. Bila dia lupa – dia santai.
Sampai suatu saat dia akan sangat ingat – yaitu saat pemilik perusahaan menggantikannya dengan seseorang yang memiliki peledak tindakan yang lebih sensitif.
Ancaman
Peledak yang satu ini adalah peningkatan kelas dari masalah.
Masalah-masalah kecil yang tidak terselesaikan, akan tumbuh menjadi kenyataan yang membahayakan dan itu lah yang kita sebut sebagai ancaman.
Sehingga, bila kita semua lebih berbakat untuk menunda penyelesaian masalah, sebetulnya kita semua ini sedang membesarkan ancaman-ancaman bagi diri kita dan tugas-tugas kepemimpinan kita.
Seorang pemimpin yang berkelas tidak membiarkan dirinya diancam oleh apa pun untuk memutuskan dan melakukan yang benar, apa lagi oleh ancaman yang datang dari kelemahannya dalam bertindak.
Rencana
Anda yang berencana baik dan besar – seharusnya mudah untuk membuat diri Anda mendahulukan yang harus didahulukan, melakukan dengan cara yang seharusnya, dan pada saat Anda harus melakukannya.
Bila Anda telah memiliki rencana, tetapi rencana itu tidak membuat Anda
terbebaskan dari kecenderungan untuk menunda dan mendahulukan yang menyenangkan saja – itu berarti bahwa Anda harus mengganti rencana Anda, atau mengganti sikap Anda.
Bila Anda tidak dapat menggantikan kedua hal itu, akan datang suatu saat di mana Anda lah yang akan digantikan – dengan pribadi yang mudah meledak karena rencana-rencananya. Ingat lah, walau pun organisasi yang Anda pimpin itu berukuran besar dan berjangkauan luas – sifat dari kepemimpinan Anda adalah tetap kepemimpinan pribadi.
Impian
Sebetulnya impian adalah juga sebuah rencana – hanya saja kita tidak mampu menjelaskan mengapa hati ini demikian terpukau-pikat kepada keindahan dari pembayangan keadaan di masa depan itu.
Bila impian Anda tidak menggerakkan Anda untuk melakukan pekerjaan Anda dengan sungguh-sungguh – walau pun Anda tidak yakin pasti bahwa yang Anda lakukan akan menuntun Anda kepada impian Anda; makaAnda tidak sedang bermimpi.
Ingat lah, bahwa hanya dia yang kesibukannya disemangati oleh impiannya
yang bisa hidup dalam kesadaran kehidupan impian.
Tugas
Peledak tindakan kepemimpinan yang tertinggi adalah keikhlasan menerima tugas sebagai pemimpin untuk mendatangkan perbedaan yang berarti bagi organisasi yang kita pimpin, bagi pelanggan yang kita layani, dan bagi semua yang berkepentingan atas kebaikan yang kita hasilkan.
Bila Anda melihat ada sesuatu yang seharusnya dilakukan untuk kebaikan organisasi dan bisnis Anda -jangan lah Anda menunggu sampai Anda menjadi pejabat; segera lakukanlah yang harus Anda lakukan.
Melakukan yang baik tanpa harus diperintahkan adalah tanda kualitas
kepemimpinan yang sebenarnya.
Sesuatu yang tidak mungkin, sesungguhnya bukan fakta. Tapi hanya ada dalam pikiran. Pikiran kita sendiri yang memenjara diri kita, yang membatasi kemampuan diri.
Ketika berpikir kita tidak bisa, maka dengan sendirinya kita akan mencari pembenaran dari pola pikir yang kita tanam tadi. Tindakan yang kemudian diambil akan merupakan hasil dari ketidakmungkinan yang kita ciptakan sendiri.
Bila saja kita mampu mengikis rasa ketidakmungkinan dalam pikiran, maka potensi kita dengan sendirinya akan mengalir bagai air bah.
Ketidakmungkinan hanyalah masalah waktu. Yang tidak mungkin di masa lalu, menjadi harapan dan cita-cita dimasa kini. Dan harusnya menjadi kenyataan di masa depan.
Tidak ada ketidakmungkinan, kecuali kita ijinkan pikiran kita sendiri yang membatasi.
Sewaktu kita mengatakan, “ah tidak mungkin bagi saya untuk mencapai hal itu”, ketika itupula kita mematikan api impian dan harapan.
Ada empat kekuatan yang bisa dicoba untuk menekan ketidak-mungkinan yang menggerogoti impian kita:
Imaginasi
Imaginasi adalah kekuatan kreatif untuk menggambarkan keadaan ideal yang kita inginkan.
Bayangkan seandainya hal yang menurut pikiran tadi tidak mungkin, menjadi hal yang sangat mungkin dan sudah terjadi. Rasakan perasaan bahagia yang ditimbulkan.
Hasrat kita akan timbul dan mendorong bagi pencapaian impian kita menjadi hal yang mungkin terjadi.
Kecintaan
Dengan kecintaan akan memunculkan kualitas terbaik dari kita. Cintai pekerjaan Anda saat ini. Cintai kondisi keluarga Anda saat ini. Cintai semua anugerah yang telah Tuhan berikan bagi kita.
Tidak ada yang tidak mungkin bila kekuatan cinta bicara
Tindakan
Lakukan satu upaya yang akan menentukan langkah Anda selanjutnya. Anda tidak akan berubah bila tidak ada tindakan yang dilakukan.
Mulai dari yang paling mungkin dapat Anda lakukan, sekecil apapun.
Setiap tindakan kecil yang kita ambil akan menghapus jejak ketidakmungkinan menjadi sesuatu yang mungkin.
Kesabaran
Kesabaran akan menghantarkan kita kearah lebih baik. Sebesar apapun hasil yang didapat, hormati diri Anda sendiri.
Beri penghargaan pada kekuatan sabar yang Anda kelola. Sayangi diri Anda, sesungguhnya Tuhan beserta orang-orang yang sabar. Sabar setelah melakukan suatu ikhtiar.
Jangan pernah hapus impian. Karena orang yang tidak punya mimpi, tidak mungkin mempunyai rencana. Sedang rencana yang masuk akal adalah proses untuk membangun kekuatan.
Beranikanlah untuk memperbarui diri,
karena tidak mungkin sebuah pribadi yang lama
berhak bagi sesuatu yang baru.
Mulai hari ini, marilah kita bersungguh-sungguh untuk mengganti setiap dan semua cara kita yang tidak sesuai lagi bagi kebesaran yang kita inginkan bagi diri kita sendiri.
Bila banyak dari yang Anda inginkan belum mengambil bentuk nyatanya yang menjadikan kehidupan Anda lebih utuh, dan bila banyak dari keinginan Anda hanya menjadi penyemangat bagi Anda untuk merajut lebih banyak keinginan baru, maka Anda harus tulus menerima bahwa ada yang harus diperbarui.
Sadarilah bahwa,
Tidak semua keinginan untuk menjadi,
disertai dengan upaya membangun kepantasan untuk menjadi.
Maka pertanyaannya kepada Anda,
Apakah yang sedang Anda kerjakan hari ini adalah upaya bernilai yang akan menjadikan Anda pantas menerima yang Anda minta?
Ataukah Anda sedang bekerja untuk menunggu waktu pulang?
Jangan heran, karena ada di antara kita yang ketidak-sabarannya bukanlah terhadap lambatnya reaksi pasar atau kekurang-sigapan organisasinya, tetapi terutama terhadap lambatnya kedatangan akhir minggu ini.
Sebagian dari kita sedang tidak sabar untuk membangun hasil-hasil super dalam pekerjaan kita, dan sebagian lagi sedang tidak sabar untuk menghidari pekerjaan.
Mereka berbeda, tetapi mereka memiliki kesamaan yang akut; yaitu keduanya menginginkan keberhasilan melalui pekerjaan mereka. Yang satu menginginkan keberhasilan melalui yang dikerjakannya, dan yang satu ini menginginkan keberhasilan dari pekerjaan yang kalau bisa dihindarinya.
Ada beberapa dada yang menjadi sesak karena membaca ini.
Tetapi berbahagialah, karena itu tanda bahwa Anda mengenali keharusan untuk memperbaruhi diri.
Pribadi yang baru berhak bagi yang baru.
Segera setelah mengerti,
berlakulah seperti yang Anda mengerti.
Karena,
bila yang Anda lakukan tidak berhubungan dengan pengertian baik,
untuk apakah yang Anda lakukan itu?
Saya berharap bahwa sapa sederhana saya ini dapat hadir bersama Anda dalam kesibukan Anda hari ini.
Ingatlah bahwa kesibukan Anda tidak boleh hanya berkenaan dengan pengumpulan uang, tetapi juga termasuk kesibukan untuk menjadikan diri Anda sebagai pencerah bagi kehidupan mereka yang penting dalam kehidupan Anda.
Sudahkah Anda menelepon istri atau suami Anda di tempat kerjanya atau di rumah?
Teleponlah, dan katakan bahwa Anda menelepon hanya untuk mengatakan terima kasih atas kesediaannya untuk menua bersama Anda. Beritahulah dia bahwa Anda menyayanginya. Katakanlah bahwa Anda kangen, dan ingin segera memeluknya. Mintalah maaf bila Anda belum bisa membuatnya merasa sebagai yang paling penting dalam hidup Anda.
Anda dilahirkan dengan hati yang lembut, gunakanlah.
Dikutip dari :Mario Teguh
“Hidup ini cuma satu kali… namun di dalamnya terdapat
berjuta peluang, berjuta kesempatan dan berjuta konsekuensi
yang menyertai setiap keputusan, tindakan, bahkan pemikiran
seorang manusia”
Apa makna dari ungkapan yang sering kita dengar bahwa hidup ini
hanya satu kali? Tidak lain mengisyaratkan kita untuk ambil bagian
dalam phase aktif kehidupan pada saat ini, dan juga menghindarkan
diri dari keputusan dan tindakan yang akan kita sesali di kemudian
hari.
Sering kali kita melihat bahwa di pasaran telah ada banyak pihak lain
yang tampak lebih ahli, lebih berpengalaman, lebih dikenal luas dan
telah lebih banyak menghasilkan karya-karya & pencapaian, dimana
ternyata hal-hal tersebut sama sekali bukan menjadi halangan bagi kita
untuk berkarya dan mempersembahkan yang terbaik bagi orang lain,
karena sama seperti mereka yang telah lebih dulu terjun, masa sekarang
ini adalah waktu yang sama tepatnya bagi kita untuk berkarya & berkontribusi.
Jadi kapan tepatnya kita sudah tidak pada waktunya untuk berkarya dan
berkontribusi? Tentunya saat kita sudah tidak bernafas lagi di muka bumi
ini, dan ketika saat itu terjadi, alangkah baiknya bila kita sudah melakukan
berbagai tugas, kontribusi, upaya, dan terutama tindakan yang diperlukan
untuk memberikan hal yang berguna bagi sesama manusia dan generasi selanjutnya, sebagaimana banyak pendahulu kita yang mewariskan hal-hal
baik dan berguna sebagai buah karya semasa periode aktif kontribusi mereka
pada masanya lalu.
Jadi, tunggu apa lagi, mari kita ‘jeburkan’ diri ke dalam upaya, aktivitas, dan
keputusan yang membawa hasil positif – pencapaian bagi diri kita dan juga
kontribusi bagi sesama manusia, karena saat ini kita sedang dalam phase
yang tepat untuk hal-hal tersebut, berkaitan dengan hidup kita yang “cuma
1 kali” ini… dan singkat pula… Jadikan setiap hari berharga, bermanfaat,
berbahagia dan bertanggung jawab bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitar
kita.
“Faith does not depend on miracles, or any extraordinary sign, but is the peculiar gift of the spirit, and is produced by means of the word … There is to which the flesh is more inclined than to listen to vain revelation.”
(Dr. John Calvin)
Tempat/Tgl Lahir: Tarutung, Sumatera Utara, 4 September 1941
Sekolah:
Jabatan
Kompleks Kopassus AD Cijantung I, Jakarta Timur Telp: 849772 Nama Sintong Panjaitan, melesat naik ketika terjadi pembajakan pesawat DC-9 Garuda Woyla, Maret 1981. Sintong, saat itu berpangkat letnan kolonel, membawa sepasukan Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha — kini Kopassus) ke bandar udara Don Muang, Bangkok, dan berhasil membebaskan sandera serta menumpas pembajaknya sekalian.
Padahal, sebelumnya kemampuan pasukan Baret Merah Indonesia itu sempat dipandang leceh oleh pers asing. Mereka kurang yakin Indonesia sudah memiliki sebuah pasukan antiteroris. Ketika ternyata pasukan pimpinan Sintong berhasil mengakhiri pembajakan melalui operasi yang cuma berlangsung tiga menit, tidak saja wartawan yang gempar, tetapi juga seluruh dunia. Dalam ukuran lebih kecil, walaupun tidak kurang pentingnya, sukses Sintong sebagai pemimpin pasukan sudah diperagakannya pada usia lebih muda. Waktu itu, 1 Oktober 1965, anak Tarutung, Sumatera Utara, ini baru dua tahun lulus dari Akademi Militer Nasional (AMN) saat diperintahkan membawa sepasukan kecil Resimen Para Komando AD (RPKAD) menyerbu RRI Jakarta yang sedang dikuasai pasukan pro G-30-S/PKI. Dan Sintong, masih letnan satu waktu itu, berhasil menjalankan tugasnya dengan baik.Ia anak keenam dari 10 bersaudara. Ayahnya cuma seorang mantri kesehatan. Begitu menamatkan SMA di Tarutung, Sintong merantau ke Jakarta lalu ikut tes masuk AMN, dan lulus. Pengalaman tempurnya cukup banyak. Di samping operasi merebut RRI dan pembajakan pesawat Garuda ia turut menumpas gerombolan PGRS di Kalimantan Barat dan OPM di Irian Jaya, serta ikut dalam tim penutup penyergapan Kahar Muzakkar di Sulawesi. Perwira generasi muda ABRI ini pernah bertugas sebagai Komandan Pusat Pendidikan (Pusdik) Sandhi Lintas Udara di Batujajar, Jawa Barat.
Sebagai komandan Komando Pasukan Khusus (Kopassus), ia menggantikan Brigjen Wismoyo Arismunandar, yang sama-sama lulusan AMN 1963. Sejak pasukan elite ini bernama RPKAD, yang didirikan pada 1952, Sintong adalah komandannya yang kesepuluh. Ketika melantik Sintong sebagai Komandan Kopassus, KSAD Jenderal Rudini menekankan bahwa reorganisasi Kopassus, seiring dengan reorganisasi ABRI secara seluruhan bertujuan meningkatkan daya tempur dan daya gempur satuan TNI-AD. ”Bentuk fisik dalam reorganisasi adalah membangun suatu kekuatan siap, kecil, tetapi efektif dan efisien dalam pelaksanaan tugas,” ujarnya. Menikah dengan Lentina Napitupulu, 1971, pria yang pernah mengikuti Ekspedisi di Lembah X, Irian Jaya, ini dikaruniai dua anak. Di samping olah raga, Sintong gemar membaca
Nama:
Jenderal TNI (Purn) Luhut Panjaitan
Lahir:
Simanggala( Hutanamora), Tapanuli, 28 September 1947
Agama:
Kristen
Isteri:
Devi boru Simatupang
Anak:
- Paulina Panjaitan (Maruli Simanjuntak)
- David Panjaitan
- Paulus Panjaitan
- Karri Panjaitan
Pendidikan:
- SMA Penaburan, Bandung
- Akademi Militer 1970
Karir:
- Kopassus (Komando Pasukan Khusus)
- Komandan Pusat Pendidikan Kopassus di Batujajar, Bandung
- Asisten Operasi di Markas Kopassus
- Komandan pertama Detasemen 81 (sekarang Detasemen Penaggulangan Teror (Gultor) 81
- Komadan Pusat Kesenjataan Infantri di Bandung
- Komandan Korem di Madiun
- Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat di Bandung
Kegiatan Lain:
- Pendiri Sekolah Politeknik DEL di Balige ( Sitolu Ama Laguboti )
Menteri Perindustrian dan Perdagangan Kabinet Persatuan Nasional, ini lulusan terbaik Akademi Militer angkatan 1970. Jenderal TNI (Purn) kelahiran Simanggala, Tapanuli, 28 September 1947 ini, mengabdi di kesatuan baret merah Kopassus (Komando Pasukan Khusus), yang bermarkas di Cijantung, selama 23 tahun. Dia Komandan pertama Detasemen 8, sekaran Detasemen Penaggulangan Teror (Gultor) 81.
Penerima penghargaan Adimakayasa (penghargaan terhormat di Akademi Militer), ini selepas pendidikan dari Akademi Militer dengan pangkat letnan dua, langsung bertugas di Kopassus.
Di Kopassus, Luhut Panjaitan pernah menjabat Komandan Pusat Pendidikan Kopassus di Batujajar, Bandung, Asisten Operasi di Markas Kopassus serta Komandan pertama Detasemen 81 yang sekarang disebut Detasemen Penaggulangan Teror (Gultor) 81. Suatu detasemen yang sangat disegani dan secara khusus menangani masalah teroris. Luhut yang membangun detasemen ini mulai dari nol, saat Panglima ABRI dijabat Jenderal Benny Moerdani.
Suami dari Devi boru Simatupang, ini juga pernah menjadi Komadan Pusat Kesenjataan Infantri di Bandung. Saat menjabat Komandan Korem di Madiun, dia meraih prestasi sebagai Komandan Korem terbaik.
Luhut mendapat promosi pangkat jenderal berbintang tiga, kala dipercaya sebagai Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat di Bandung. Kemudian saat menjabat menteri, dia dianugerahi pangkat jenderal berbintang empat purnawirawan.
Pada saat muda, Luhut aktif sebagai atlet renang karate, judo dan erjun payung. Bahkan sebagai atlet renang dari Provinsi Riau, dia pernah meraih medali di PON di Bandung. Kemudian dia rajin mengikuti olahraga karate dan judo serta terjun payung.
Setelah tidak lagi menjabat menteri, dia merasa punya banyak waktu serta merasa memahami masalah olahraga, sehingga memutuskan untuk mencalonkan diri menjadi Ketua Umum KONI Pusat. Namun, dia harus mengakui dan menghormati pilihan peserta Kongres Koni yang memilih Agum Gumelar.
Sebelum menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan di era pemerintahan reformasi, Luhut Panjaitan, dia aktif sebagai pedagang (pengusaha). Kemudian dia mendirikan sekolah Politeknik DEL di Balige. Pada awal mendirikan sekolah ini, Luhut mengundang para duta besar negara-negara sahabat seperti Duta Besar Amerika, Australia dan Singapura untuk melihatnya.
Perkenalannya dengan Devi boru Simatupang berawal ketika bersekolah di Sekolah Lanjutan Atas di Bandung. Ketika itu, Luhut sekolah di SMA Penaburan dan Devi di SMA Kristen, Bandung. Hubungan mereka berlangsung hingga ke pernikahan, dikaruniai empat orang anak, yakni Paulina Panjaitan (menikah dengan Kapten Inf Maruli Simanjuntak), David Panjaitan, Paulus Panjaitan, dan Karri Panjaitan
Banyak orang tua Batak yang khawatir, apakah adat Batak akan mampu bertahan di era yang semakin men-global dan modern ini. Kekhawatiran ini semakin bertambah melihat antusisme para generasi muda Batak (terutama yang lahir di peratauan) terhadap adat Batak yang semakin hari semakin berkurang. Pudarnya ketertarikan generasi muda Batak terhadap adat Batak menurut para orang tua, pada suatu saat akan menyebabkan budaya Batak hilang dari peradaban.
Kekhawatiran para orang tua ini memang cukup beralasan, lihat saja, semakin hari semakin banyak anak muda Batak yang karena alasan tertentu sudah tidak lagi mencantumkan marganya. Anak-anak muda juga semakin tidak tertarik mengikuti acara ‘paradaton’ seperti perkawinan, dll. Banyak alasan yang dikemukaan untuk menghindar dari kewajiban menghadiri acara-acara adat ini, baik alasan yang masuk akal sampai alasan yang tidak masuk akal. Kalaupun ada anak muda yang masih mau hadir dalam upacara-upacara adat, umumnya mereka tidak lagi mengerti dan bahkan tidak peduli dengan ‘esensi’ dari upacara-upacara adat tersebut. Kalau sudah begini apakah kita masih bisa berharap, budaya Batak masih akan bertahan…?
Nah…kalau sudah begini maka apa yang harus dilakukan..? Sebagai orang Batak, apakah kita rela membiarkan kondisi ini berlangsung? Suatu saat nanti anak cucu kita akan kebingungan mencari asul usulnya dan tidak lagi memiliki kebanggaan sebagai orang Batak dan kalau sudah begini, punahlah budaya Batak itu…
Suatu ketika saya agak tertegun – walaupun akhirnya dapat memahami alasannya- ketika seorang anak muda di tegur oleh saudaranya karena tidak bisa berbahasa Batak, dengan entengnya anak muda ini menjawab ‘apa sih untungnya bisa bahasa Batak..? Kalau saya mampu berbahasa Inggris dengan baik, maka karier saya akan semakin bagus, tapi kalau bahasa Batak saya sangat bagus….paling-paling saya hanya akan dapat pujian dari sudara-saudara saya yang orang Batak….. ’.
Generasi muda Batak yang tinggal di kota merasa bahasa Batak tidak ada manfaatnya bagi mereka, karena bahasa Batak hanya digunakan pada pergaulan sebatas orang Batak saja (seringkali juga bahasa Batak memiliki image yang kurang elegan atau bahkan cenderung kasar). Untuk kondisi kehidupan di Indonesia saat ini, pernyataan diatas sangat masuk akal, didunia yang samakin kompetitif ini orang-orang cenderung menjadi pragmatis, dimana segala sesuatu diukur dari untung-ruginya.
Itu baru dari segi bahasa, contoh lain adalah upacara perkawinan orang Batak. Berbeda dengan para orang tua Batak. Banyak anak-anak muda yang tidak melihat adanya manfaat mengikuti upacara perkawinan adat Batak, karena dianggap sangat membuang waktu. Di beberapa keluarga bahkan ada yang sudah melaksanakan upacara perkawinan tanpa upacara adat Batak atau kalau pun masih ada ‘sentuhan’ adat Batak, sifatnya hanya formalitas semata dan biasanya bukan upacara adat Batak yang lengkap.
Beberapa generasi muda Batak memang masih ada yang rajin menghadiri upacara perkawinan adat Batak, tetapi mereka ini biasanya orangtua yang usianya diatas 40 tahun, dimana anak-anak mereka sudah menjelang memasuki masa-masa membentuk rumah tangga. Mereka merasa perlu menghadiri upacara perkawinan agar kelak ketika mereka mengawinkan anak, pestanya tidak sepi tamu, jadi semacam menanamkan budi yang harapnnya nanti akan dibalas, disamping tentunya juga belajar tentang tata upacara perkawinan adat Batak.
Budaya Batak yang sebahagian tercermin dalam tata upacara adat Batak bila tidak dikembangkan agar lebih kontekstual (sesuai dengan perkembangan zaman), secara perlahan akan punah karena dianggap tidak mampu memberikan nilai tambah dalam menghadapi perkembangan kehidupan masyarakat Batak yang semakin kompetitif. Cara-cara yang dilakukan oleh orang tua yang hanya mengutamakan sikap ‘nasionalisme’ atau ‘loyalitas’ sebagai orang Batak, tidak akan mampu menarik minat generasi muda yang cenderung semakin pragmatis.
Nah…tentunya kita semua sebagai orang-orang yg sangat bangga sebagai orang Batak agak gusar dengan kondisi ini. Tidak dapat dibayangkan bila beberapa puluh tahun lagi budaya Batak hanya menjadi sejarah. Untuk menghindari itu kita perlu belajar dari bangsa-bangsa lain yang budaya mampu bertahan dan bahkan semakin menglobal. Salah satu contohnya adalah Budaya Cina, ketika budaya-budaya lain semakin pudar, budaya Cina justru semakin berkibar. Bukan hanya orang Cina yang ingin menguasai budayanya, seluruh masyarakat dunia saat ini berloba-lomba menguasai budaya Cina seperti bahasa Mandarin, filsafat-filsafat dan seni perangnya. Begitu juga dengan Jepang, sebelum Cina mulai berkibar, masyarakat diseluruh dunia berlomba-lomba menguasai bahasa dan budaya Jepang…mengapa….karena budaya Cina, Jepang dan beberapa budaya lain yang telah menglobal telah terbukti mampu memberikan manfaat yang lebih bagi orang yang menguasainya…mereka belajar budaya tersebut bukan karena terpaksa, takut di marahin para orang tua, tapi karena budaya tersebut menjadi modal yang kuat untuk mampu bersaing dalam kehidupan yang semakin kompetitif….pertanyaannya kemudian adalah, mampukah budaya Batak memberikan manfaat kepada penuturnya seperti budaya Cina dan Jepang……….??.
“Saya mencoba untuk mendeskripsikan (secara Antropologis) mengenai 9 Nilai Budaya Yang Utama pada Masyarakat Batak Toba. Memang masih banyak Nilai Budaya Batak Toba yang lain, yang mana mungkin menjadi bahasan teman-teman yang lain ?
9. KONFLIK
Dalam kehidupan orang Batak Toba kadarnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang ada pada Angkola-Mandailing. Ini dapat dipahami dari perbedaan mentalitas kedua sub suku Batak ini. Sumber konflik terutama ialah kehidupan kekerabatan dalam kehidupan Angkola-Mandailing. Sedang pada orang Toba lebih luas lagi karena menyangkut perjuangan meraih hasil nilai budaya lainnya. Antara lain Hamoraon yang mau tidak mau merupakan sumber konflik yang abadi bagi orang Toba.
1. Mangarisika..
Adalah kunjungan utusan pria yang tidak resmi ke tempat wanita dalam rangka penjajakan. Jika pintu terbuka untuk mengadakan peminangan maka pihak orang tua pria memberikan tanda mau (tanda holong dan pihak wanita memberi tanda mata). Jenis barang-barang pemberian itu dapat berupa kain, cincin emas, dan lain-lain.
2. Marhori-hori Dinding/marhusip..
Pembicaraan antara kedua belah pihak yang melamar dan yang dilamar, terbatas dalam hubungan kerabat terdekat dan belum diketahui oleh umum.
3. Marhata Sinamot..
Pihak kerabat pria (dalam jumlah yang terbatas) datang oada kerabat wanita untuk melakukan marhata sinamot, membicarakan masalah uang jujur (tuhor).
4. Pudun Sauta..
Pihak kerabat pria tanpa hula-hula mengantarkan wadah sumpit berisi nasi dan lauk pauknya (ternak yang sudah disembelih) yang diterima oleh pihak parboru dan setelah makan bersama dilanjutkan dengan pembagian Jambar Juhut (daging) kepada anggota kerabat, yang terdiri dari :
1. Kerabat marga ibu (hula-hula)
2. Kerabat marga ayah (dongan tubu)
3. Anggota marga menantu (boru)
4. Pengetuai (orang-orang tua)/pariban
5. Diakhir kegiatan Pudun Saut maka pihak keluarga wanita dan pria bersepakat menentukan waktu Martumpol dan Pamasu-masuon.
5. Martumpol (baca : martuppol)
Penanda-tanganan persetujuan pernikahan oleh orang tua kedua belah pihak atas rencana perkawinan anak-anak mereka dihadapan pejabat gereja. Tata cara Partumpolon dilaksanakan oleh pejabat gereja sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tindak lanjut Partumpolon adalah pejabat gereja mewartakan rencana pernikahan dari kedua mempelai melalui warta jemaat, yang di HKBP disebut dengan Tingting (baca : tikting). Tingting ini harus dilakukan dua kali hari minggu berturut-turut. Apabila setelah dua kali tingting tidak ada gugatan dari pihak lain baru dapat dilanjutkan dengan pemberkatan nikah (pamasu-masuon).
6. Martonggo Raja atau Maria Raja.
Adalah suatu kegiatan pra pesta/acara yang bersifat seremonial yang mutlak diselenggarakan oleh penyelenggara pesta/acara yang bertujuan untuk :
Mempersiapkan kepentingan pesta/acara yang bersifat teknis dan non teknis
Pemberitahuan pada masyarakat bahwa pada waktu yang telah ditentukan ada pesta/acara pernikahan dan berkenaan dengan itu agar pihak lain tidak mengadakan pesta/acara dalam waktu yang bersamaan.
Memohon izin pada masyarakat sekitar terutama dongan sahuta atau penggunaan fasilitas umum pada pesta yang telah direncanakan.
7. Manjalo Pasu-pasu Parbagason (Pemberkatan Pernikahan)
Pengesahan pernikahan kedua mempelai menurut tatacara gereja (pemberkatan pernikahan oleh pejabat gereja). Setelah pemberkatan pernikahan selesai maka kedua mempelai sudah sah sebagai suami-istri menurut gereja. Setelah selesai seluruh acara pamasu-masuon, kedua belah pihak yang turut serta dalam acara pamasu-masuon maupun yang tidak pergi menuju tempat kediaman orang tua/kerabat orang tua wanita untuk mengadakan pesta unjuk. Pesta unjuk oleh kerabat pria disebut Pesta Mangalap parumaen (baca : parmaen)
8. Pesta Unjuk
Suatu acara perayaan yang bersifat sukacita atas pernikahan putra dan putri. Ciri pesta sukacita ialah berbagi jambar :
1. Jambar yang dibagi-bagikan untuk kerabat parboru adalah jambar juhut (daging) dan jambar uang (tuhor ni boru) dibagi menurut peraturan.
2. Jambar yang dibagi-bagikan bagi kerabat paranak adalah dengke (baca : dekke) dan ulos yang dibagi menurut peraturan. Pesta Unjuk ini diakhiri dengan membawa pulang pengantin ke rumah paranak.
9. Mangihut di ampang (dialap jual)
Yaitu mempelai wanita dibawa ke tempat mempelai pria yang dielu-elukan kerabat pria dengan mengiringi jual berisi makanan bertutup ulos yang disediakan oleh pihak kerabat pria.
10. Ditaruhon Jual.
Jika pesta untuk pernikahan itu dilakukan di rumah mempelai pria, maka mempelai wanita dibolehkan pulang ke tempat orang tuanya untuk kemudian diantar lagi oleh para namborunya ke tempat namborunya. Dalam hal ini paranak wajib memberikan upa manaru (upah mengantar), sedang dalam dialap jual upa manaru tidak dikenal.
11. Paranak makan bersama di tempat kediaman si Pria (Daulat ni si Panganon)
1. Setibanya pengantin wanita beserta rombongan di rumah pengantin pria, maka diadakanlah acara makan bersama dengan seluruh undangan yang masih berkenan ikut ke rumah pengantin pria.
2. Makanan yang dimakan adalah makanan yang dibawa oleh pihak parboru
12. Paulak Unea..
a. Setelah satu, tiga, lima atau tujuh hari si wanita tinggal bersama dengan suaminya, maka paranak, minimum pengantin pria bersama istrinya pergi ke rumah mertuanya untuk menyatakan terima kasih atas berjalannya acara pernikahan dengan baik, terutama keadaan baik pengantin wanita pada masa gadisnya (acara ini lebih bersifat aspek hukum berkaitan dengan kesucian si wanita sampai ia masuk di dalam pernikahan).
b. Setelah selesai acara paulak une, paranak kembali ke kampung halamannya/rumahnya dan selanjutnya
memulai hidup baru.
13. Manjahea.
Setelah beberapa lama pengantin pria dan wanita menjalani hidup berumah tangga (kalau pria tersebut bukan anak bungsu), maka ia akan dipajae, yaitu dipisah rumah (tempat tinggal) dan mata pencarian.
14. Maningkir Tangga (baca : manikkir tangga)
Beberapa lama setelah pengantin pria dan wanita berumah tangga terutama setelah berdiri sendiri (rumah dan mata pencariannya telah dipisah dari orang tua si laki-laki) maka datanglah berkunjung parboru kepada paranak dengan maksud maningkir tangga (yang dimaksud dengan tangga disini adalah rumah tangga pengantin baru). Dalam kunjungan ini parboru juga membawa makanan (nasi dan lauk pauk, dengke sitio tio dan dengke simundur-mundur).Dengan selesainya kunjungan maningkir tangga ini maka selesailah rangkaian pernikahan adat na gok.
Yang menjadi bahan pertanyaan sekarang adalah :
a. Apa kebaikan dan keburukan urutan pernikahan adat na gok diatas ?
b. Masih relevankah tata cara pernikahan adat na gok diatas pada jaman sekarang ini ?
Tongkat Tunggal Panaluan oleh semua sub suku Batak diyakini memiliki kekuatan gaib untuk : meminta hujan, menahan hujan (manarang udan), menolak bala, Wabah, mengobati penyakit, mencari dan menangkap pencuri, membantu dalam peperangan dll. Ada beberapa versi mengenai kisah terjadinya tongkat Tongkat Tunggal Panaluan yang memiliki persamaan dan perbedaan, sehingga motif yang terdapat pada tongkat Tongkat Tunggal Panaluan juga bervariasi. Salah satu kisahnya sebagai berikut :
sepasang suami istri yaitu Datu Baragas Tunggal Pambarbar Na Sumurung (ahli ukir) dan istrinya Nan Sindak Panaluan, sudah lama menikah tapi belum dikaruniai anak. Mereka menanyakan hal tersebut kepada ahli ramal, ahli ramal menganjurkan agar mengganti patung-patung yang ada di rumahnya dengan yang lebih cantik. Maka pergilah Datu Baragas kehutan untuk mencari kayu yang cocok dijadikan patung, tetapi berhari-hari lamanya tidak ditemukan. Suatu saat ia (Baragas Tunggal) melihat di udara pohon melayang-layang tanpa cabang, daunnya kira-kira setinggi manusia. Baragas memohon kepada Mulajadi agar pohon tersebut diturunkan ke bumi dan ternyata dikabulkan. Pohon tersebut turun tepat ditempat peristirahatan (perberhentian) yang disebut Adian Naga Tolping. Baragas mengambilnya serta mulai mengukir sehingga berbentuk seorang gadis disebut Jonjong Anian. Setelah selesai, ia bermaksud membawa pulang, tetapi tidak dapat diangkatnya.
Beberapa hari kemudian saudagar kain dan perhiasan lewat lalu beristirahat ditempat tersebut. Saudagar melihat betapa cantiknya patung tersebut bila dikenakan pakaian dan perhiasan lengkap. Ia kemudian mengenakan pakaian, selendang, kerabu, kalung, gelang dan kancing emas. Ketika hendak pulang barang-barang tersebut tidak dapat dibuka walau dengan cara apapun. Lalu ia pulang dengan hati yang sangat kesal. Tersiarlah berita sampai keseluruh negeri dan sampai pada dukun Nasumurung Datu Pangabang-abang Pangubung-ubung yaitu dukun yang dapat menghidupkan kembali yang mati atau menyegarkan yang busuk. Sang dukun pergi ketempat patung tersebut dengan membawa obat berkhasiat, lalu meneteskannya ke mata patung, matanya langsung berkedip, ditetskan kehidung terus bersin, diteteskan ke bibir sehingga komat-kamit, diteteskan ke mulut terus dapat berbicara, ke telinga lalu mendengar, kepersendian, pergelangan tangan maupun kaki sehingga dapat bergerak dan berjalan sehingga patung tersebut menjadi seorang gadis cantik jelita, diberi nama siboru Jonjong Anian Siboru Tibal Tudosan.
Datu Nasumurung membangun rumah untuk tempatnya bertenun yang dikawal harimau, babi dan anjing, tangga rumahnya dibuat dari pisau-pisau yang tajam. Banyak pemuda yang simpati padanya tapi untuk bertemupun tidak bisa, namun seorang pemuda berhasil memikat hatinya yang bernama Guru Tatea Bulan dan sepakat untuk melaksanakan perkawinan. Berita itu tersebar luas diseluruh negeri dan sampai kepada Baragas (sipembuat patung), lalu mendatangi datu Pangabang-abang yang menanyakan hal itu. Terjadilah perselisihan antara sipembuat patung (pengukir), datu yang menghidupkan dan saudagar yang masing-masing mengatakan bahwa siboru Jonjong Anian adalah putrinya.
Perselisihan itu ditengahi oleh Si Raja Bahir-bahir (seorang penyumpit) yang menyatakan : Baragas (pengukir) pantas menjadi ayahnya, saudagar menjadi pamannya dan datu Pangabang-abang menjadi kakeknya. Pendapat itu disetujui dan perkawinanpun dilaksanakan. Beberapa lama kemudian, Siboru Jonjong Anian mulai mengandung (hamil). Selama hamil Guru Tatea Bulan senantiasa memenuhi permintaannya agar kelak tidak menjadi staknasi (halangan), walaupun permintaan tersebut terasa aneh, mis : meminta hati elang, nangka, pisang, ikan lumba-lumba, ayam jantan, dll. Ternyata kehamilannya diluar kebiasaan yaitu selama 12 bulan, setelah lahir ternyata kembar dua (marporhas), laki-laki dan perempuan, Guru Tatea Bulan melaksanakan pesta pemberian nama (martutu aek). Yang laki-laki dinamai Aji Donda Hatahutan Situan Parbaring dan adiknya si Tapi Nauasan Siboru Panaluan.
ejak dahulu kala etnis Batak Toba sangat setia melaksanakan upacara adat dalam berbagai kegiatan. Adat sebagai bahagian dari kebudayaan elemen untuk mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan merupakan identitas budaya dalam khasanah kebhinekaan di dalam negara tercinta ini. Pada dasarnya adat di dalam implementasinya berfungsi menciptakan dan memelihara keteraturan, ketentuan-ketentuan adat dalam jaringan hubungan sosial diadakan untuk menciptakan keteraturan, sehingga tercapai harmonisasi hubungan secara horizontal sesama warga dan hubungan vertikal kepada Tuhan. Dengan demikian adat adalah aturan hukum yang mengatur kehidupan manusia sehingga bisa menciptakanketeraturan, ketentraman dan keharmonisan (Prof DR B Simanjuntak,2001).
Pada saat sekarang ini dalam setiap pelaksanaan adat Batak Toba seringkali terjadi ketegangan, perbedaan pendapat walaupun jarang yang menimbulkan konflik, (jarang bukan berarti tidak pernah). Kenapa hal ini bisa terjadi? Banyak hal yang dapat menimbulkannya antara lain, faktor agama, kemajemukan asal dan etnis dalam suatu daerah, defusi adat yaitu percampuran adat antar etnis misalnya perkawinan berlainan suku, pengaruh era globalisasi dan lain-lain. Faktor-faktor inilah menyebabkan pergeseran pelaksanaan tata upacara adat Batak Toba pada saat sekarang. Sebenarnya hal ini sudah diantisipasi oleh tokoh adat Raja Patik Tampubolon setelah masuknya agama (Kristen) ke tanah BatakToba. Beliau mengelompokkan pergeseran adat itu dalam 3 bahagian dan diimplementasikan oleh DR AB Sinaga dalam tiga species dalam pelaksanaan adat tersebut yaitu, Adat Inti, Adat na Taradat, dan Adat na Niadathon. Dalam perkembangan tata upacara adat Batak Toba padasaat sekarang muncul 1 (satu) spesies lagi yaitu Adat na Soadat. Untuk menghindarkan ketegangan dan beda pendapat kita harus mengetahui dan semufakat bahagian adat manakah yang akan dilaksanakan dalam suatu upacara adat dari ke 4 (empat) spesies upacara adat.
1. ADAT INTI
Adat inti mencakup seluruh kehidupan yang terjadi pada penciptaan dunia oleh Debata Mulajadi Nabolon. Adat inti diberikan bersamaan dengan penciptaan. Sesudah Mulajadi Nabolon menciptakan dewa tiga serangkai yaitu Batara Guru, Bala Sori dan Bala Bulan, maka dengan segera dimamahkanlah kepada mereka undang-undang dan hukum untuk mengetahui yang baik dan yang buruk. Tatkala pada awal mula manusia pertama dicipta (ada) di dunia ini maka Mula Jadi Nabolon memeteraikan “adat” dalam diri manusia tersebut serta memeteraikan undang-undang dan hukum ke dalam hati mereka tentang yang boleh dan terlarang, yakni “terlarang” (tongka), “jangan” (unang) dan tak patut (naso jadi).
Dengan demikian, Adat Inti mutlak harus dituruti dan dilaksanakan sebagai undang-undang, adat dan hukum dalam kehidupan, seperti yang ditegaskan dalam ungkapan berikut :
Adat do ugari
Sinihathon ni Mulajadi
Siradotan manipat ari
Siulahonon di siulu balang ari artinya :
Adat adalah aturan yang ditetapkan oleh Tuhan Pencipta, yang harus dituruti sepanjang hari dan tampak dalam kehidupan (Simanjuntak,1966).
Harus diakui bahwa adat dilakukan pada saat sekarang oleh masyarakat Batak Toba adalah mengacu pada Adat Inti, walaupun secara empirik tata cara Adat Inti ini tidak pernah lagi dilaksanakan secara utuh. Sifat adat inti adalah “primer” dalam arti mendahului dan konsitutif terhadap yang lain yang mengemban muatan etis normatif dan kemutlakan serta konservatif (tidak berubah). Pelaksanaan Adat Inti tidak boleh dimufakati untuk mengobahnya dalam upacara adat karena terikat dengan norma dan aturan yang diturunkan oleh Mula Jadi Nabolon (sebelum agama mempengaruhi sikap etnis Batak Toba terhadap upacara adat). Misalnya menentukan hari pelaksanaan upacara adat (maniti ari), menentukan media dan adat yang akan digunakan dalam upacara adat. Misalnya menentukan daging yang akan dimakan, kerbau, lembu atau babi, tergantung pada jenis adat yang dilaksanakan. Gondang sabangunan atau uning-uningan, musik tiup, key board tidak dikenal (tidak diperbolehkan) dalam pelaksanaan adat inti, dan banyak lagi norma-norma yang mutlakharus ditaati dan dipenuhi sejak merencanakan kegiatan, hari pelaksanaan dan sesudah upacara adat. Karena adat inti ini mutlak dan konservatif serta mengemban muatan etis normatif pelaksanaannya tidak bisa diobah. Misalnya, acara adat sari matua tidak bisa diobah menjadi acara adat saur matua dan lain-lain. Menurut RP Tampubolon menuruti atau melanggar adat inti sebagai undang-undang (patik) dan hukum (uhum) adalah soal hidup atau mati, melanggar dan mengobahnya adalah dosa berat yang mengakibatkan kebinasaan.
Dengan uraian tentang Adat Inti di atas maka kita pada saat sekarang yang masih setia melaksanakan upacara adat, kita tidak mungkin lagi (tidak mampu) melaksanakannya sesuai dengan iman berdasarkan agama yang kita anut dan inilah merupakan pergeseran pelaksanaan adat yang kita laksanakan.
2. ADAT NA TARADAT
Secara harafiah, adat na taradat adalah undang-undang dan kelaziman yang berupa adat. Adat itu menyatakan istiadat yang oleh suatu persekutuan desa, atau tempat tinggal di daerah perantauan dan juga oleh agama diubah dan dimasukkan menjadi suatu kelaziman atau kebiasaan yang boleh disebutkan adat yang dimufakati oleh warga-warga masyarakat. Ciri khas dari adat na taradat ini adalah pragmatisme dan fleksibilitas boleh jadi dilaksanakan berdasarkan sistematika adat inti. Dalam spesies adat kedua ini pelaksanaan adat demikian akomodatif dan lugas untuk menerima pengaruh daerah manapun asal dapat beradaptasi dengan acuan adat inti. Perpaduan fleksibilitas dan fragmatis menjadikan adat luput dari kekakuan dan kegamangan oleh adat inti yang stagnasi dan konservatisme. Adat na taradat ini bersifat adaptatif dan menerima pergeseran dari adat inti dan bahagian adat inilah yang dilaksanakan oleh pelaku-pelaku adat Batak Toba pada saat sekarang dengan berpedoman kepada ungkapan folklor Batak Toba.
Tuat ma na di dolok martungkot siala gundi
Napinungka ni ompunta na parjolo
Tapa uli-uli (bukan tai huthon) sian pudi
(Turunlah yang di bukit bertongkat siala gundi, yang sudah dimulai leluhur kita terdahulu kita perbaiki dari belakang). Artinya adat istiadat yang sudah diciptakan dan diturunkan nenek moyang kita terdahulu kita ikuti sambil diperbaiki (disesuaikan) dari belakang. Ungkapan ini menunjukkan permufakatan pergeseran pelaksanaan adat. Hal ini sering menimbulkan perdebatan di kalangan tokoh-tokoh adat (raja parhata) dan pelaku-pelaku adat. Perdebatan ini sering terjadi dengan suara yang kuat khas Batak Toba antara kelompok yang “seperti” setiap dengan adat inti dengan kelompok yang ingin perubahan oleh sesuatu hal. Lalu perdebatan diredakan dengan beberapa ungkapan umpama dan umpasa yang menimbulkan permufakatan untuk pelaksanaan upacara adat dengan menerima pergeseran dan perubahan antara lain :
- Aek godang tu aek laut. Dos ni roha do sibahen na saut, artinya
Kesamaan pendapat untuk jadi dilaksanakan
- Nangkok si puti tuat si deak Ia i na ummuli ima tapareak, artinya
Sesuatu yang lebih baik itulah yang dilaksanakan
Oleh karena permufakatan untuk pergeseran pelaksanaan adat itu, hampir pada semua upacara adat Batak Toba terjadi perubahan. Misalnya pada upacara perkawinan, sistematika atau urut-urutan tata cara perkawinan sering tidak dilaksanakan lagi mulai dari, marhori-hori dinding, marhusip, marhata sinamot, sibuha-buhai, mangan juhut, paulak une, maningkir tangga. Marhori-hori dinding adalah istilah yang digunakan kepada anak kecil yang mulai belajar berjalan. Anak kecil tersebut memegang dinding sambil melangkah penuh ke hati-hatian supaya jangan terjatuh. Istilah ini pulalah yang dipakai untuk menanyakan pihak yang punya putri oleh pihak yang punya anak yang akan dikawinkan. Dengan hati-hati pihak paranak menanyakan soal prinsip apakah anak gadis parboru sudah siap untuk dikawinkan, kalau sudah siap pada hari-hari berikutnya dilanjutkan dengan marhusip yaitu menanyakan kira-kira berapa sinamot yaitu jumlah uang (boli) yang akan diberikan untuk pelaksanaan pesta.
Selanjutnya adalah marhata sinamot yaitu memastikan jumlah sinamot dan pelaksanaan teknis upacara adat pada hari yang ditentukan adalah upacara pesta adat yang dimulai dengan makan sibuha-buhai, itu pembuka pelaksanaan upacara adat lalu bersama-sama ke gereja menerima pemberkatan setelah itu dilanjutkan acara adat di tempat yang telah ditentukan.
Secara garis besar demikianlah sistematika pelaksanaan upacara adat perkawinan Batak Toba pada adat inti. Namun pada saat sekarang dengan permufakatan banyak yang diobah antara lain, marhori-hori dinding, tidak lagi suatu keharusan dilaksanakan. Marhusip yang biasa tidak dihadiri orang tua si anak yang akan dikawinkan, pada saat sekarang justru orang tua si anak yang akan dikawinkan itulah yang memegang peranan dalam acara marhusip, marhata sinamot hanyalah formalitas sekedar mengumumkan apa yang telah dibicarakan pada acara marhusip.
Pada acara marhata sinamot ini pun masih ada sandiwara (pura-pura) menetapkan besar sinamot yang akan diberikan. Jumlah ulos yang harus diterima oleh pihak paranak (pengantin laki-laki) tidak jelas acuannya boleh jadi dari 7 (tujuh) helai sampai 800 (baca delapan ratus) helai.
Paulak une dan maningkir tangga adalah suatu skenario sandiwara upacara adat dalam permufakatan ulaon sadari (diselesaikan dalam satu hari). Substansi acara adat paulak une dan maningkir tangga tidak diperlukan lagi pada saat sekarang.
Demikian halnya pada upacara adat kematian status seseorang yang meninggal bisa diobah dengan permufakatan sesuai dengan permintaan keluarga yang meninggal (hasuhutan). Para tokoh adat dan seluruh sanak famili yang masuk ke dalam sistem kekerabatan akan mengalah apabila hasuhuton meminta status yang meninggal dari status mangido tangiang yaitu seseorang yang meninggal pada saat meninggal belum ada anaknya yang sudah berkeluarga atau sudah ada yang kawin tetapi belum mempunyai cucu dari anak laki-laki dan anak perempuan, diobah status kematiannya menjadi “sari matua” status sari matua menurut adat inti diberikan kepada seseorang yang saat meninggal sudah ada anak laki-laki dan anak perempuan yang sudah berkeluarga dan sudah mempunyai cucu dari anak-anaknya tersebut tapi masih ada yang belum berkeluarga (adong sisarihononhon). Ada juga hasuhuton meminta agar orang tuanya yang meninggal diobah status kematiannya dari sarimatua menjadi saur matua. Saur matua menurut adat inti adalah apabila seseorang saat meninggal mempunyai keturunan laki-laki dan perempuan sudah berkeluarga semua dan dari setiap anak-anaknya yang sudah berkeluarga telah memiliki cucu. Ada juga hasuhuton yang meminta status kematian orang tuanya diobah dari status saur matua menjadi mauli bulung. Kematian status mauli bulung adalah status tertinggi dalam tata upacara adat kematian, mauli bulung adalah apabila seseorang pada saat meninggal meninggalkan keturunannya cucunya telah memiliki cucu dari anak laki-laki dan perempuan atau sudah mempunyai nini dan nono (cicit).
Pergeseran tata acara adat Batak Toba telah terjadi pada setiap kegiatan upacara adat. Misalnya pada upacara adat pemberian ulos tondi pada anak yang sedang hamil 7 bulan diobah menjadi pemberian ulos mula gabe. Substansi pemberian ulos diobah menjadi “mendoakan” anak agar tetap sehat-sehat demikian juga anak yang akan dilahirkan diberikan Tuhan kesehatan. Demikian halnya pada kegiatan upacara adat lainnya perobahan dan pergeseran itu sudah terjadi seperti tata upacara adat, memasuki rumah, menggali tulang belulang, mengambil nama (mampe goar) dan lain-lain
Oleh Drs Brisman Silaban MSi
Nama: Mayor Jenderal Anumerta Donald Isac Panjaitan
Lahir: Balige, Tapanuli, 9 Juni 1925
Meninggal: Jakarta, 1 Oktober 1965
Dimakamkan: Taman Makam Pahlawan Kalibata
Agama: Kristen
Pendidikan Formal:
- Sekolah Dasar
- Sekolah Menengah Pertama
- Sekolah Menengah Atas
Pendidkan Militer: Latihan Gyugun
Pendidikan Lain:
- Kursus Militer Atase (Milat), tahun 1956
- Associated Command and General Staff College, di Amerika Serikat
Karier Militer:
- Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad), tahun 1962
- Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat
- Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) II/Sriwijaya di Palembang
- Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan
- Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).
- Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera
- Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi, tahun 1948
- Komandan Batalyon Tentara Keamanan Rakyat (TKR)
- Anggota Gyugun Pekanbaru, Riau
Prestasi:
- Salah seorang pembentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR)
- Membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Cina (RRC) untuk PKI
Tanda Kehormatan: Pahlawan Revolusi
Keberhasilan Mayor Jenderal Anumerta D.I. Panjaitan membongkar rahasia kiriman senjata dari Republik Rakyat Cina (RRC) untuk Partai Komunis Indonesia (PKI) serta penolakannya terhadap rencana PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri atas buruh dan tani, membuat dirinya masuk daftar salah satu perwira Angkatan Darat yang dimusuhi oleh PKI. Kebencian PKI itu kemudian berujung pada aksi penculikan serta pembunuhan dirinya saat pemberontakan Gerakan 30 September 1965.
Pria kelahiran Balige, Tapanuli yang bernama lengkap Donald Isac Panjaitan, ini masuk militer pada jaman pendudukan Jepang. Setelah lebih dulu mengikuti latihan Gyugun, ia selanjutnya ditugaskan di Gyugun Pekanbaru, Riau. Setelah kemerdekaan RI, ia merupakan salah seorang pembentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Di TKR, ia mengawali kariernya sebagai komandan batalyon, selanjutnya ia sering berpidah tugas. Setelah Indonesia memperoleh pengakuan kedaulatan, ia diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara & Teritorial (T&T) I/Bukit Barisan di Medan. Ia juga pernah bertugas sebagai Atase Militer di Bonn, Jerman. Terakhir ia bertugas sebagai Asisten IV Menteri/ Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) ketika peristiwa sadis itu menimpa dirinya.
Panjaitan lahir di Balige, Tapanuli, 9 Juni 1925. Pendidikan formal diawali dari Sekolah Dasar, kemudian masuk Sekolah Menengah Pertama, dan terakhir di Sekolah Menengah Atas. Ketika ia tamat Sekolah Menengah Atas, Indonesia sedang dalam pendudukan Jepang. Sehingga ketika masuk menjadi anggota militer ia harus mengikuti latihan Gyugun. Selesai latihan, ia ditugaskan sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru, Riau hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Ketika Indonesia sudah meraih kemerdekaan, ia bersama para pemuda lainnya membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian menjadi TNI. Di TKR, ia pertama kali ditugaskan menjadi komandan batalyon, kemudian menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi pada tahun 1948. Seterusnya menjadi Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera. Dan ketika Pasukan Belanda melakukan Agresi Militernya yang Ke II, ia diangkat menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Seiring dengan berakhirnya Agresi Militer Belanda ke II, Indonesia pun memperoleh pengakuan kedaulatan. Panjaitan sendiri kemudian diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan. Selanjutnya dipindahkan lagi ke Palembang menjadi Kepala Staf T & T II/Sriwijaya.
Setelah mengikuti kursus Militer Atase (Milat) tahun 1956, ia ditugaskan sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat. Ketika masa tugasnya telah berakhir sebagai Atase Militer, ia pun pulang ke Indonesia. Namun tidak lama setelah itu yakni pada tahun 1962, perwira yang pernah menimba ilmu pada Associated Command and General Staff College, Amerika Serikat ini, ditunjuk menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad). Jabatan inilah terakhir yang diembannya saat peristiwa G 30/S PKI terjadi.
Ketika menjabat Asisten IV Men/Pangad, ia mencatat prestasi tersendiri atas keberhasilannya membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Cina (RRC) untuk PKI. Dari situ diketahui bahwa senjata-senjata tersebut dimasukkan ke dalam peti-peti bahan bangunan yang akan dipakai dalam pembangunan gedung Conefo (Conference of the New Emerging Forces). Senjata-senjata itu diperlukan PKI yang sedang giatnya mengadakan persiapan melancarkan pemberontakan.
Penganut Kristen ini, terkenal sangat taat beragama. Karenanya, dia juga salah satu perwira di jajaran TNI AD yang tidak menyukai PKI sekaligus yang menolak pembentukan Angkatan Kelima yang terdiri atas buruh dan tani sesuai rencana PKI. Dan karena itulah dirinya dimusuhi dan dibunuh oleh PKI.
Dengan bertameng alasan dipanggil oleh Panglima Tertinggi Presiden Soekarno, tujuh perwira tinggi TNI AD, pada malam 30 September atau pagi dinihari tanggal 1 Oktober 1965 hendak diculik oleh sekelompok berpakaian Pengawal Presiden yang kemudian diketahui adalah pasukan PKI. Enam perwira tinggi itu berhasil diculik, namun Jenderal A.H. Nasution berhasil lolos tapi puteri dan ajudannya menjadi korban peristiwa itu.
Mayjen Anumerta D.I. Panjaitan yang malam dinihari itu merasa heran akan pemanggilan mendadak itu. Namun karena loyalitasnya pada pimpinan tertinggi militer, Presiden Soekarno, ia pun berangkat namun terlebih dahulu berpakaian resmi. Namun firasatnya yang tajam sepertinya merasakan bahaya yang sedang terjadi. Sebelum memasuki mobilnya, dengan berdiri di samping mobil ia lebih dulu memohon doa kepada Tuhan. Namun belum selesai menutup doanya, pasukan PKI sudah memberondongnya dengan peluru.
Ia bersama enam perwira lainnya, lima diantaranya perwira tinggi yakni: Jend. TNI Anumerta Achmad Yani; Letjen. TNI Anumerta Suprapto; Letjen.TNI Anumerta S Parman; Letjen. TNI Anumerta M.T. Haryono; Mayjen. TNI Anumerta Sutoyo S; dan satu perwira pertama, ajudan Jenderal Nasution yakni Kapten CZI TNI Anumerta Pierre Tendean pada malam itu gugur sebagai bunga bangsa demi mempertahankan ideologi Pancasila.
Pencarian yang dilakukan di bawah pimpinan Soeharto (Mantan Presiden RI yang waktu itu menjabat sebagai Pangkostrad), ditemukanlah jenazah Panjaitan di Lubang Buaya, terkubur massal di dalam satu sumur tua yang tidak dipakai lagi bersama enam perwira lainnya. Ia gugur sebagai Pahlawan Revolusi, kemudian dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, pangkatnya yang sebelumnya masih Brigadir Jenderal kemudian dinaikkan satu tingkat menjadi Mayor Jenderal.
Kini di Lubang Buaya, Jakarta Timur di depan sumur tua tempat jenazah ditemukan, berdiri Tugu Kesaktian Pancasila sebagai tugu peringatan atas peristiwa itu. Dan pada era pemerintahan Soeharto ditetapkanlah tanggal 1 Oktober setiap tahunnya sebagai hari Kesaktian Pancasila sekaligus sebagai hari libur nasional
Arus globalisasi – akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat – selain berpengaruh positif bagi peningkatan taraf hidup manusia, juga menimbulkan efek negatif pada sendi-sendi sosial kemasyarakatan. Pranata-pranata sosial mengalami pergeseran makna dan melahirkan nilai-nilai baru yang bisa jadi merupakan pengingkaran terhadap nilai-nilai hakiki. Sepanjang masih bersifat positif , proses degradasi makna itu masih bisa diterima. Namun yang sering menjadi bahan persoalan adalah efek negatif berupa lunturnya nilai-nilai ideal, spritual dan religius menjadi bersifat kebendaan (materialisme) semata-mata.
Kebudayaan Batak pun tidak jauh berbeda dengan kebudayaan daerah lainnya di muka bumi ini, akibat pengaruh negatif dari terpaan gelombang globalisasi tersebut. Sastra Batak yang merupakan bagian dari bahasa sekaligus bagian seutuhnya dari budaya Batak , menurut penilaian berbagai pihak yang menaruh perhatian terhadap keberadaan bahasa daerah nusantara yang penting dan terkemuka ini dirasakan semakin terpinggirkan. Salah satu contoh dalam upacara-upacara adat yang digelar di Bona Pasogit, unsur sastra Batak mengalami pergeseran kualitas mengarah ke kuantitas, disamping adanya kekeliruan semisal menuturkan umpasa atau umpama dari sipenutur yang didukung penuh para orangtua dalam pesta adat itu.
” Pat ni gaja do hamu tu pat ni hora, anak ni raja do hamu jala pinompar ni na bisuk marroha “, ima tutu…, sambutan hadirin sambil tertawa, seolah-olah penerima berkat yang menjadi alamat yang diberkati adalah bagian dari kaki gajah. Seharusnya dalam sampiran itu tidak mempergunakan kata “hamu” . “Pat ni gaja tu pat ni hora, anak ni raja do hamu jala pinompar ni nabisuk marroha”, namun ada kalanya hal tersebut tidak disadari sipenutur umpasa atau umpama yang tergelincir kalau tidak tepat disebut kekeliruan, sehingga kalangan muda yang mendengar dikuatirkan akan mengulangi ucapan yang sama kepada pihak lain ketika menyampaikan berkat (Batak: hata pasu-pasu) Dalam upacara adat misalnya di tempat yang lain.
“Amang pargonsi, bahen damang ma jolo gondang na hombar tu hami akibat kurangnya pemahaman tentang tata cara “maminta gondang” (baca : mamitta goddang) atau sering juga diminta lagu “Poco-poco” dan atau lapa loma yang menjadi trend di kalangan tua muda. Lagu Lapa loma yang pernah penulis wawancarai teman yang sudah melanglang buana ke luar negeri, lagu ini tidak boleh dinyanyikan disembarang tempat sekalipun di luar negeri. Pertanyaannya adalah “Apakah hal itu sudah termasuk adat Batak?” Jika jawaban atas pertanyaan ini “Ya”, kapan mulai operasional ?,dan jika jawaban “tidak” dimanakah peran yang menyatakan dirinya raja adat siboto adat dohot uhum ?.
Agan pe holan pasi-pasina asa unang laos mago ambolong, ditoru on pinatedek do manang na piga na marpardomuan tu hamoraon ni hata Batak di halak Batak na mandok na mora hata Batak, jala tontu sahali ndang na mora hata Batak di angka dongan na manghalanggushonsa.
IBU HAMIL DAN MELAHIRKAN BAYI
Seseorang ibu yang sedang hamil dalam hata pantun (baca: satra lisan) dinamai : manggora pamuro; na di hiringan manuk; mangae dongan (na di bortian). Menjelang kelahiran bayi, sebutan diatas berubah menjadi: martahi hundul (baca : martahi huddul) atau tumagam haroan. Lahir dalam bahasa Batak dinamai “sorang” tali pusar bayi disebut “anggi-anggi ni dakdanak” atau dalam bahasa sehari-hari (hata na somal) dikenal dengan istilah “pusokna”. Bayi laki-laki yang dilahirkan dinamai “Si unsok” (baca : si ussok), sedangkan bayi perempuan adalah ’si butet”.
Dewasa ini akibat pengaruh bahasa Indonesia, ucapan si ussok di sebagian daerah masih di lingkungan Tano Batak (Tapanuli Utara dan Toba Samosir) berubah menjadi si uccok. Sebenarnya tidak ada huruf “C” dalam bahasa Batak Toba. Sebagai tambahan, misalnya dalam kehidupan sehari-hari mengucapkan Camat sering terdengar “Samat” atau kassang menjadi kaccang, sementara dialek Samosir pengucapan kata kassang adalah hassang. Bandingkan dengan lagu yang berjudul “Pulo Samosir” penulis mengutip sepenggal syair lagu tersebut berbunyi : …..gok disi hassang nang eme nang baoang……
Kembali ke ibu yang melahirkan. Ibu yang melahirkan itu dalam sastra lisan dikenal dengan istilah “di tataring”. Ibu yang menolong bayi dalam kandungan hingga persalinan (melahirkan) dalam bahasa sastra lama dinamai “sibaso”. Sibaso jika dibandingkan dengan dunia kesehatan masa kini setara dengan “Bidan Bersalin”.
Maklum di zaman dulu belum dikenal di Tano Batak mungkin juga daerah lain, pengobatan modern layaknya masa kini seperti rumah sakit persalinan dengan tenaga dokter spesialis kandungan. Bayi yang dilahirkan lebih dari satu orang dengan jenis kelamin yang sama dinamakan “Silinduat” (baca: silidduat), sedang bayi kembar yang dilahirkan dengan jenis kelamin yang berbeda disebut “marporhas”.
Mari kita teliti dulu istilah pangintubu (baca: pangittubu) dan painundun (baca:painuddun). Biasanya ibu yang melahirkan itu dan bayi yang dipangkunya akan mendapat panas atau kehangatan melalui api. Sudah barang tentu sang ayah jauh sebelumnya telah mempersiapkan kayu bakar yang dibutuhkan. Ada kalanya ibu tadi yang masih lemah tidak tahan terus menerus mainundun membelakangi api karena butuh untuk berbaring. Dalam keadaan demikian, ada saja ibu yang lain, biasanya keluarga dekat untuk menggantikannya mainundun (baca : mainuddun). Ibu yang disebut terakhir dalam istilah Batak dinamai “painundun” (baca:painuddun). Painundun pokok kata ialah tundun yang memiliki arti punggung. Pokok kata tundun dibentuk kata mainundun yang berarti “duduk dengan punggung membelakangi sesuatu”. Yang dibelakangi tentu saja adalah api, jadi arti lengkap perkataan mainundun ialah duduk membelakangi api dengan tujuan mengalihkan kehangatan tubuh dari si ibu terhadap si bayi yang dipangkunya.
Ibu yang berperan untuk menggantikan mainundun itu dinamai painundun, sedang ibu yang melahirkan bayi itu dinamakan “inang pangintubu” (baca : inang pangittubu). Lama kelamanaan istilah painundun berkembang, misalnya seseorang ibu yang berjasa dalam membesarkan si bayi dalam bahasa Batak dikenal dengan istilah “pagodang-godanghon” ( baca : pagodang-godakkon).
Istilah “orang tua asuh” yang dikenal luas dalam masyarakat kita dewasa ini dengan apa yang dinamai GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh) bukan hal yang baru lagi dalam masyarakat adat Batak, bahkan anak yatim piatu (na so marama so marina) tidak akan terlantar hidupnya, mereka akan dipelihara keluarga. Dalam hal ini prinsip yang masih dipegang teguh ialah “mardangka ni salohot, marnata na sumolhot”. Artinya, keluarga dekat lebih berhak dan memiliki tanggungjawab yang pertama dan utama dalam mengasuh, memelihara, membesarkan si anak hingga dewasa, bahkan segala sesuatu yang berhubungan nantinya dengan urusan perkawinan mereka.
Perbedaannya dengan GNOTA adalah seseorang menjadi orang tua asuh tergantung atas kesediaan dan rela berkorban untuk mengasuh si anak tanpa mempersoalkan asal muasal atau latar belakang keluarga si anak, sedang dalam masyarakat adat Batak adalah wajib hukumnya, akan tetapi tanggungjawab sebagai pengasuh adalah berdasarkan prinsip mardangka ni salohot, marnata na sumolhot sebagaimana dipaparkan di atas.
Salah satu petuah dari orang tua ketika memberangkatkan si anak pergi merantau adalah “carilah orang tuamu yang bisa menggantikan sekaligus tempat memperoleh perlindungan dan kasih sayang. Sebab orang tua yang demikian, sesungguhnya adalah painundun bagi kalian dan mereka harus kalian hormati sebagaimana menghormati kedua orang tuamu”. Bahkan dalam ulaon unjuk (upacara adat perkawinan kedua mempelai). Istilah painundun juga sering dipergunakan di kalangan masyarakat adat Batak terutama di daerah perantauan (parserakan).
BUHA BAJU/ANAK SIHAHAAN
Pengertian buha baju dalam masyarakat adat Batak adalah anak yang pertama dilahirkan, baik laki-laki maupun perempuan. Anak dalam pengertian Bahasa Indonesia adalah laki-laki dan perempuan. Pengertian anak dalam suku Batak hanya anak lelaki disebut anak, sedang perempuan dengan sebutan boru. Lelaki langsung memakai marganya sesudah nama kecilnya, tetapi perempuan dengan sebutan boru. Misalkan lelaki itu bernama Parulian Panjaitan. Misalkan pula perempuan itu bernama Duma boru Panjaitan atau Duma br.Panjaitan. Mengapakah sebabnya demikian?. Jawabnya ialah setiap marga ayah hanya diwariskan kepada anaknya laki-laki atau dengan kata lain dalam masyarakat adat Batak menganut garis “patrilinial”, sedang perempuan ketika masih anak-anak dan saat ia gadis adalah bagian dari kerabat ayahnya, jika kelak menikah otomatis akan pindah dari klan ayahnya menjadi klan suaminya.
Kembali ke buha baju. Keluarga A bisa saja anak Sihahaan sekaligus buha bajunya adalah laki-laki, sedang keluarga B buha bajunya adalah perempuan, dan anak Sihahaan adalah laki-laki. Dalam masyarakat adat Batak, khususnya hubungan kekerabatan mengenal prinsip “anak sihahaan” sebagai pemegang kedaulatan dalam intern dan extern keluarga terutama jika sudah berumah tangga. Selain itu ada nilai plus yang diberi kewenangan sebagai “pemimpin” bagi semua saudara laki-lakinya dan juga saudara perempuannya. Jika seseorang pemuda lain hendak berbuat nakal terhadap saudaranya perempuan, maka ia harus membela atas tindakan yang kurang terpuji itu demi menegakkan martabat keluarga sebagai salah satu fungsi perlindungan terhadap semua saudaranya. Pertanyaannya adalah siapakah yang disebut anak sihahaan?.
Anak Sihahaan atau anak tertua dalam sistem kekerabatan Batak Toba bisa saja anak pertama, artinya ia anak pertama (buha baju) sekaligus anak tertua laki-laki, tetapi dapat juga ia laki-laki tertua dalam urutan yang kesekian, misalnya bisa saja anak pertama adalah perempuan urutan kedua adalah laki-laki, maka yang disebut terakhirlah anak sihahaan.
Kesimpulannya ialah anak sihahaan atau anak tertua laki-laki, mungkin anak pertama tetapi mungkin pula bukan, melainkan ia anak tertua atau pertama sebagai anak lelaki menurut jenis kelamin. Kapan seseorang dianggap dewasa menurut adat Batak?. Seseorang dianggap dewasa menurut adat Batak adalah jika seseorang sudah berumah tangga (keluarga) atau dalam bahasa sastra lisan disebut “Nunga ditutung hudonna”.
*) Oleh : Waldemar Simamora.
Sudah sejak lama sebutan (perkataan) Batak sebagai nama salah satu etnis di Indonesia diteliti dan diperbincangkan banyak orang asal kata atau pengertiannya. Bahkan melalui beberapa penerbitan suratkabar pada awal abad 20 atau juga masa sebelumnya, pernah terjadi polemik antara sejumlah penulis yang intinya memperdebatkan apa sebenarnya pengertian kata (nama) Batak, dan dari mana asal muasal nama itu. Di suratkabar Pewarta Deli no. 82 tahun 1919 misalnya, polemik yang paling terkenal adalah antara seorang penulis yang memakai nama samaran “Batak na so Tarporso” dengan J. Simanjutak. Keduanya saling mempertahankan pendirian dengan argumentasi masing-masing, serta polemik di surat kabar tersebut sempat berkepanjangan. Demikian pula di suratkabar keliling mingguan yang di terbitkan HKBP pada edisi tahun 1919 dan 1920, perbincangan mengenai arti sebutan Batak itu cukup ramai dimunculkan.
Seorang penulis memakai inisial “JS” dalam tulisan pendeknya di suratkabar Imanuel edisi 17 Agustus 1919, akhirnya menyatakan diri tampil sebagai penengah diantara silang pendapat tersebut. JS dalam tulisannya antara lain mengutip buku berjudul “Riwayat Poelaoe Soematra” karangan Dja Endar Moeda (alm) yang diterbitkan tahun 1903, yang pada halaman 64 cuplikannya sebagai berikut : “Adapoen bangsa yang mendoedoeki residetie Tapanoeli itoe, ialah bangsa Batak namanya. Adapoen kata “Batak” itoe pengertiannya : orang pandai berkuda. Masih ada kata Batak yang terpakai, jaitoe “mamatak“, yang ertinya menaiki koeda. Kemoedian hari orang perboeatlah kata itoe djadi kata pemaki (plesetan/red BONA) kepada bangsa itoe…”
keterangan serupa juga dikemukakan Dr. J. Warneck (Ephorus HKBP) dalam bukunya berjudul “Tobabataksch-Deutsche Woterbuch” seperti tertulis di halaman 26.
Menurut JS yang beralamat di Pangaribuan seperti tertulis di suratkabar Imanuel, tuan L.Th. Meyer juga menulis dalam bukunya berjudul “Maleisch Hollandsch Wordenboek”, pada halaman 37 : “Batak, Naam van een volksstamin in Sumatra…” (Batak adalah nama satu Bangsa di pulau Sumatra).
Keterangan itu dituturkan JS dalam tulisan pendeknya sebagai meluruskan adanya anggapan ketika itu seolah-olah perkataan Batak memberi pengertian terhadap suatu aliran/kepercayaan tentang agama tertentu yang dikembangkan pihak tertentu mendiskreditkan citra orang Batak.
Citra Keperkasaan
Menyimak beragam catatan tentang topik yang sama, ternyata pada umumnya kata Batak meyiratkan defenisi-defenisi tentang keberanian atau keperkasaan. Sebab menurut Amborsius Hutabarat dalam sebuah catatannya di suratkabar Bintang Batak tahun 1938 menyimpulkan, pengertian Batak sebagai orang yang mahir menaiki kuda memberi gambaran pula bahwa suku itu dikenal sebagai suku yang memiliki jiwa keras, berani, perkasa. Kuda merupakan perlambang kejantanan, keberanian di medan perang, atau kegagahan dalam menghadapi bahaya/rintangan.
Drs DJ Gultom Raja Marpodang menulis adanya teori mengatakan bahwa suku Batak adalah Si-Batak Hoda yang artinya suku pemacu kuda. Asal usul suku Batak berdasarkan teori adalah pendatang dari Hindia Belanda sekitar Asia Tenggara sekarang memasuki pulau Sumatera pada masa perpindahan bangsa-bangsa di Asia. (Buku Dalihan Natolu, Nilai Budaya Suku Batak, hal 32 cetakan 1992).
Drs DJ Gultom dengan bersusah payah telah melakukan serangkaian penyelidikan intensif seputar arti kata Batak, dengan membaca sejarah, legende, methologi, termasuk wawancara dengan orang-orang tua, budayawan dan tokoh adat.
Beberapa perkataan “batak” antara lain dalam bahasa Batak Pakpak Dairi berbunyi : “Mmas Batakn mahan gmgmmn laho mahan tabungn, biat ni kata mahan sungkunn mndahi kalak sipantas singg ddang radumn“. Maksudnya adalah bahwa mmas batak dijadikan warisan (homitan) dibuat menjadi tapak sirih, sudah sepantasnya tempat untuk bertanya itu adalah orang yang mengetahui. Penggertian kata mmas batak dalam umpasa itu disimpulkan sebagai serbuk emas dulangan menjadi emas murni atau logam mulia. Dengan demikian pengertian batakn pada masyarakat Dairi adalah asli, sejati, murni, atau mulia. Sebutan kata Batak pada masyarakat Dairi konon sangat bermakna, tak bisa sembarangan disebut, sehingga kata batak itu seperti disucikan.
Temuan perkataan “batak” pada Batak Karo antara lain adalah : Mbatak-mbatakken jenujung si Tongat kari berngi“. Maksudnya, nanti malam akan diadakan mbatak-mbatakken jenujung si Tongat. Masyarakat Karo berpandangan bahwa seorang manusia ada jenujungnya (junjungan) yang selalu mendampingi. Jenujung adalah roh yang mengikuti seseorang, dan sering membantu seseorang itu disaat dia terancam bahaya. Apabila jenujung seseorang meninggalkan atau tidak lagi mengikutinya alamat yang bersangkutan akan mendapatkan bahaya atau sakit-sakitan. Usaha agar jenujung seseorang kembali mengikutinya harus dengan melaksanakan upacara spritual. Itulah yang disebut orang Karo mbatak-mbataken. Dengan pengertian ringkas sebutan tersebut adalah suatu usaha suci agar seseorang tetap sehat kuat selamat sentausa. Masih ada ungkapan pada bahasa Karo berbunyi “Ibatakkenmin adah nda”, artinya bentuklah tempat itu. maksudnya apabila seseorang hendak mendirikan rumah, langkah pertama adalah meratakan tanah pertapakan didahului suatu kegiatan ritual agar rumah yang dibangun menjadi tempat yang sehat sejahtera bagi penghuninya. Itu dimaksud pula untuk pembuatan pundasi yang kuat agar rumah yang dibangun kokoh. Jadi pengertian ibatakken atau batak pada masyarakat Karo adalah usaha yang suci agar sehat dan kuat.
Adapun temuan perkataan “batak” pada bahasa Batak Simalungun, antara lain ” Patinggi ma batohon i, ase dear sabahtaon“. Artinya, tinggikanlah batohan agar bagus sawah kita ini. Sawah yang terletak di pinggir sungai atau di lereng gunung sering rusak karena banjir. Untuk mencegahnya, maka di pinggir sawah dibuat benteng yang kuat penahan serangan banjir. Itu sebabnya, ada ungkapan “patinggi ma batohan i, ase dear sabahtaon“. Jadi pengertian Batahon pada masyarakat Simalungun adalah tumpuan kekuatan untuk menahan bahaya serangan.
Di Pilipina konon ada satu pulau yang bernama Batac (huruf “c” dibelakang). Di pulau itulah terdapat masyarakat yang banyak memiliki persamaan budaya dan bahasa dengan orang Batak Toba di Sumatera Utara. Konon pengertian kata “batac” di sana juga mencerminkan makna sesuatu yang kokoh, kuat, tegar, berani, perkasa? Seperti pernah diturunkan dalam satu tulisan di media Liputan Bona Pasogit beberapa waktu lalu, orang Pilipina terutama yang berasal dari kawasan daerah Batac di sana, merasa berada di negaranya saat berkunjung ke Sumatera Utara. Mereka menemukan pula sejumlah perkataan yang sebutan dan artinya sama dengan yang ada di negaranya. Misalnya kata “mangan” (makan), “inong” (inang), “ulu” (kepala), “sangsang” (daging babi cincang dimasak pakai darahnya) dan banyak lagi.
Apakah ada pula hubungan kata Batak dengan “batu bata” atau batako (batu yang dibuat persegi empat memakai semen) yang digunakan untuk bangun-bangunan? Belum diketahui persis. Tapi arti kata “batu bata” dari “batako” juga dilukiskan sebagai bermaknaa kuat, kokoh, tahan lama. Sehingga bisa juga mendekati pengertian Batohan pada bahasa Simalungun.
Catatan yang penulis uraikan ini mungkin belum tentu sudah menjadi pengertian final tentang arti sebutan /kata Batak. Tapi berdasarkan berbagai catatan yang dikemukakan diatas, barangkali satu sama lain cukup mendekati untuk dirumuskan menjadi suatu kesimpulan. Apabila sebutan Batak itu berasal dari perkataan “mamatak” (penunggang kuda) kita mungkin bisa membayangkan kedekatan sejarah nama itu dengan karakter dan gaya hidup para leluhur di masa lampau yang diwarnai perjuangan, pertarungan, pertempuran, keberanian menghadapi berbagai tantangan demi mempertahankan eksistensinya.
Kuda selalu di ilustrasikan menjadi simbol keberanian, keperkasaan, keuletan dan jiwa kejuangan. Di jaman dulu, siapa tahu, orang Batak menggunakan kuda dalam merintis perkampungan ke daerah-daerah pedalaman, atau saat bertarung dengan musuh-musuhnya. Mungkin karena itu pula, lukisan Sinsingamagaraja XII oleh Agustin Sibarani dibuat menunggang kuda sehingga nampak lebih menekankan keperkasaan seorang tokoh pejuang. Sementara hingga saat ini di berbagai pelosok daerah terpencil di Tanah Batak, masih banyak penduduk yang menggunakan jasa kuda meskipun hanya sebatas pengangkutan barang.
Mungkin diantara pembaca masih ada yang memiliki catatan atau dokumen yang masih bisa memperkaya wacana seputar asal kata atau pengertian sebutan Batak, tentu akan sangat bermanfaat untuk melengkapi tulisan yang sifatnya masih terbatas ini.
dikutip dari ” Rapolo”
Untuk ketiga kalinya Tuan Di Bangarna Cup akan diselenggarakan. Bertepatan dengan peringatan 100 tahun kebangkitan nasional serta 63 tahun kemerdekaan bangsa kita bangsa Indonesia , turnamen ini dilaksanakan. Tahun 2006 acara ini untuk pertama kalinya digelar di lapangan Bola Perumahan Masyeba Batu Aji serta tahun berikutnya juga digelar turnament yang sama di Lapangan Bola Volley Batu Aji Baru dan lapangan Bola Putra Moro Batu Aji. Turnament ini selain bertujuan untuk menambah keakraban antar Pomparan Tuan Di Bangarna Boru dan bere Se Barelang serta wahana untuk saling mengenal secara dekat sehingga terbangun komunikasi dua arah yang efektif dalam mewujudkan berbagai program prospektif di masa yang akan datang. Salah satu wahana tersebut coba dirangkai secara apik dan terkoordinir oleh Panitia sehingga terencana, tersosialisasikan serta terlaksana dengan baik.
Frans W Panjaitan, selaku Ketua Umum Punguan Raja Panjaitan Boru & Bere Se Kota Batam menyambut baik rencana ini dan berharap seluruh anggota keluarga besar Marga-marga Pomparan Tuan Di Bangrna seperti Panjaitan, Silitonga, Siagian dan Sianipar supaya dapat memanfaatkan moment ini untuk saling bersilaturhami dan saling bahu membahu ditengah kesibukan kita masing-masing.
Ditempat terpisah, Walter Panjaitan didampingi Jeffry Sianipar selaku Panitia perhelatan Tuan Di Bangarna Cup III ini menyampaikan, beberapa cabang olahraga yang bakal dipertandingkan dalam Tuan Di Bangarna Cup III tersebut antara lain Bulu Tangkis yang akan digelar di GOR Batu Aji tepatnya disamping Pom Bensin Perumnas Batu Aji. Setelah itu menyusul lahi perlombaan keahlian dan kekompakan tim dalam memainkan bola volly yang akan dipusatkan di lapangan bola Volly Pasar Aviari, tepatnya di samping Pos Polisi Aviari. Serta salah satu cabang olahraga yang sangat digandrungi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yaitu pertandingan Sepak Bola. Khusus yang satu ini akan digelar di lapangan bola Perumahan Putera Moro tetanggaan dengan Putri Hijau Batu Aji atau setelah Kantor Camat Sagulung, pungkasnya.
Perhelatan ini akan digelar mulai tanggal 12 – 28 September di tiga lokasi tersebut sesuai dengan jadwal yang akan disusun oleh Panitia. Dan bagi yang ingin bergabung dapat menghubungi Panitia dengan Bigstone (0778 – 7029006, 0778 364986) Rudi (0812702 2020) P Clinton Silitonga (081270493223) P Jo Siagian (081364362971) serta P Kostrad Sianipar (081270010632).
TUAN DIBANGARNA CUP
Untuk lebih mempererat tali persaudaraan diantara Pomparan ni Ompui Tuan Dibangarna Boru dan Bere ( Panjaitan, Silitonga, Siagian dan Sianipar ) se Barelang akan segera Bergulir Tuan Dibangarna Cup III, yang akan diadakan pada
Hari / Tanggal :
12 September – 28 September 2008
Tempat :
Sepak Bola di Lapangan Sepak Bola, Perumahan Putra Moro, Putri Hijau
Bola Volley di Lapangan Bola Volley Pasar Aviari (Samping Pos Polisi)
Bullu Tangkis di GOR BATU AJI (Samping Pom Bensin)
Jadwal Pertandingan Pembukaan
Mari Kita semarakkan Pertandingan Tuan dibagarna Cup III ini,